Instagram Twitter Tumblr
Nitpick Your Movies
  • Home
  • About
  • Movie Reviews
    • By Score
      • 9 out of 10 and Above
      • 8 to 9 out of 10
      • 7 to 8 out of 10
      • 6 to 7 out of 10
      • 5 to 6 out of 10
      • Below 5 out of 10
  • By Year
    • 2016
    • 2013 - 2015
    • 2001 - 2010
    • 2000 and older
      • 1991 - 2000
      • 1981 - 1990
      • 1971 - 1980
      • 1970 and older
  • By Genre
    • Action
    • Adventure
    • Comedy
    • Crime & Gangster
    • Drama
    • Epics/Historical
    • Horror
    • Musicals/Dance
    • Sci-Fi
    • War
    • Westerns
    • Others
  • Movie Talks
    • Discussions
    • Movie Dissections
  • Awards
    • Best Movie of The Year (2016)
    • Worst Movie of The Year (2016)
  • Contact

Passengers adalah film original screenplay keluaran tahun 2016 yang disutradarai oleh Morten Tyldum yang juga menyutradarai The Imitation Game (2014).

Film ini menuai respon buruk dari kritikus film dan bahkan teman-teman saya juga, tapi menurut saya film ini tidak separah itu. Memang kadang kesannya dragging dan gak konsisten tapi saya menghargai kalau ini adalah original screenplay bukan adaptasi dari komik, novel atau media lain.
Masalahnya adalah Passenger bukan film ancur-ancuran kayak omongan orang, masalah utamanya satu:

Film ini sangat gampang diprediksi.

Lalu pertanyaan saya begini, bisa gak kita memperbaiki Passengers dengan ngasih hanya sedikit perubahan?

Film ini bercerita tentang Jim Preston (Chris Pratt) yang terbangun 90 tahun lebih awal dari hibernasi di pesawat luar angkasa Avalon yang dalam perjalanan ke sebuah planet koloni. Di tengah jalan pesawat ini mengalami malfungsi di sana-sini dan kerusakan ini lah yang menyebabkan pod hibernasi Jim tidak berfungsi.

Merasa terisolasi karena tidak ada teman lain selain bartender robot bernama Arthur (Michael Sheen) karena penumpang pesawat lain yang masih berhibernasi dan juga dia tidak bisa kembali hibernasi setelah bangun dari pod-nya.

Jim kemudian membangunkan Aurora Lane (Jennifer Lawrence) dan akhirnya mereka menjalani kisah romansa a la The Notebook di luar angkasa namun akhirnya Aurora tahu kalau Jim yang membangunkan dia dari hibernasinya bukan karena kesalahan pod-nya. Dari sini plot Passengers menemui jalan buntu.

Kenapa begitu? Karena kita tidak diberikan subtext yang menarik dari narasi yang ditampilkan. Kita mendapat apa yang kita lihat, tidak diberi ajakan untuk menerka-nerka sendiri apa yang terjadi di dunia yang ditayangkan.

Dari awal kita disuguhi dengan perjalanan Jim Preston yang lucu, karismatik, dan secara keseluruhan sangat mudah mendapat simpati dari penonton. Dari dia terbangun dari hibernasinya, mengeksplorasi seluk-beluk Avalon, bersenang-senang melakukan berbagai kegiatan di sana, bertemu Arthur, mencari tahu kalau banyak malfungsi di Avalon dan mencoba memperbaiki pesawat dengan usaha sendiri, depresi berat karena terisolasi selama satu tahun, sampai dia memutuskan untuk membangunkan Aurora.

Dengan membangunkan Aurora, menyeret Aurora ke nasib yang sama, terjebak di Avalon sampai mati, hanya demi ada yang menemani. Jim tidak bilang kalau dia yang membangunkan dan bertingkah seolah-olah pod Aurora juga mengalami malfungsi. 

Tindakan yang harusnya kita sadar adalah egois ini tidak kita hiraukan karena kita sudah menghabiskan sekitar 30 menit dalam film untuk mengenal Jim dan karakternya sehingga kita malah lebih simpatis dengan tindakannya.

Sampai sini, semua informasi dilontarkan ke penonton sehingga kita hanya melakukan passive viewing tanpa harus merasa deg-degan atau mengira-ngira. Dan sampai sini sudah ketauan kalo pilihan di ending-nya cuma dua:

1. Aurora memaafkan Jim
2. Jim mati mengorbankan diri

Sayangnya ini film romance sehingga mereka tidak bisa bikin Jim mokat jadi pilihannya ya, Aurora maafin si Jim.

Coba kalau kita ubah susunannya dengan men-skip semua sequence yang sama Jim dan langsung ke bagian Aurora yang bangun dari hibernasinya.

Keep in mind kalau apa yang saya lakukan ini tidak mengubah aspek apapun dari film ini dan cuma merubah susunan strukturnya.

My Rearranged Version:

Aurora bangun dari tidurnya, dia melihat keadaan sekitar, dan tidak ada orang lain yang bangun selain dia di ruangannya. Lalu dia keluar dan memanggil-manggil siapapun yang bisa mendengar dia, dan lalu dia bertemu satu-satunya orang lain yang bangun di seluruh pesawat: Jim.

Perhatikan bagaimana keadaan seperti ini secara drastis merubah mood dan atmosfer film. Karena kita melihat keadaan dari mata Aurora, kita ikut bingung dan takut melihat dia sendirian lalu semakin was-was ketika bertemu dengan Jim karena kita tidak tahu seperti apa karakter dia.

Apakah dia mau membantu? Apakah dia orang baik?Apakah dia tahu penyebab Aurora bangun? Apa yang terjadi di pesawat ini? Keadaan jadi lebih creepy dan emosi yang ditawarkan jadi bertambah karena kita sebagi penonton harus mulai mencerna dan mencari jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tadi.

Saya sempat mengatakan kalau si Jim berusaha memperbaiki Avalon sendiri dan hasilnya dia mempreteli beberapa bagian pesawat seperti ditunjukkan di film. Kalau kita, and in extent Aurora, tidak tahu kalau Jim berusaha memperbaiki pesawatnya kita akan bertanya-tanya. Kenapa banyak besi berserakan? Diapakan sama Jim kok bisa rusak begini? Dia tahu apa tentang keadaan di sini? 

Pertanyaan-pertanyaan ini makin memberi beban di tiap adegan karena kita tidak tahu mana yang harus kita percaya. Lalu, saat Aurora tahu bahwa Jim yang membangunkan dia setelah mereka melalui adegan-adegan romantis seperti di film, kita benar-benar merasakan emosi dan pengkhianatan Jim terhadap Aurora dan terhadap penonton sehingga adegan itu menjadi lebih efektif.

Lalu barulah ketika adegan tadi berlalu kita diberi eksposisi melalui Jim bahwa dia kesepian terisolasi selama satu tahun dan sebagainya seperti di awal film. 

Namun, karena adegan ini ditaruh belakangan kita tidak akan cepat memaafkan tindakan Jim, kita mengerti kenapa dia melakukannya tapi reaksi kita akan lebih variatif tergantung persepsi kita masing-masing ketimbang hanya merasa simpatis terhadap Jim.

Lalu, barulah kita masuk ke klimaks dimana Jim dan Aurora harus berkerja sama untuk memperbaiki Avalon kalau mereka dan penumpang lain mau selamat. Tapi karena kita tahu apa yang dilakukan Jim terhadap Aurora, kita jadi merasa ada beban saat melihat Aurora harus bekerja sama dengan orang yang membuat dia harus bangun dari hibernasinya. Meskipun, adegan yang ditampilkan sama, emosi yang dirasakan penonton berbeda-beda.

Dari sini saya sudah tidak punya usulan sih karena menurut saya ending-nya tetap bermasalah meskipun susunannya dirubah. Namun, bisa dilihat kan dari merubah hal kecil seperti ini, narasi yang ditampilkan menjadi jauh lebih menarik dan efektif karena kita sebagai penonton diajak untuk menonton secara aktif menerka-nerka informasi dalam dunia film itu sendiri ketimbang pasif hanya menerima eksposisi dari para karakter.

Inilah yang membedakan film yang oke dan film yang bagus.

Film yang bagus akan menghormati penonton dan mengajak mereka ikut menjelajah dunia yang ditampilkan tanpa harus disuapi berbagai apa yang harus kita mengerti dan rasakan saat menonton.
Kita pun sebagai penonton juga baiknya lebih sering mencoba memahami dan menafsir film dengan lebih teliti ketimbang nonton film hanya demi liat cantiknya Jennifer Lawrence dan gantengnya Chris Pratt.

Well, semoga kita bisa lebih asik nonton film mulai sekarang.
0
Share

Spoiler Alert: tulisan ini ditujukan untuk mereka yang sudah menonton film yang akan dibahas. Disarankan untuk menonton film secara menyeluruh baru kembali lagi ke sini. Or don't, I'm not your mum.

Untuk kesempatan spesial Halloween kali ini (sebenernya udah kelewatan, tapi anggap saja masih tepat waktu), saya ingin membedah sebuah film horor legendaris garapan sutradara Jonathan Demme yaitu The Silence of the Lambs. Lebih tepatnya, saya akan menganalisa satu adegan di awal film yang sampai sekarang masih sukses membuat saya merinding sekaligus kagum. Adegan yang saya maksud adalah saat Clarice Starling, trainee agen F.B.I, mengunjungi rumah sakit jiwa tempat Dr. Hannibal Lecter, antagonis utama film ini, berada.

Kenapa saya memilih untuk menganalisa adegan ini? Karena adegan ini dengan elok dan subtle menggunakan pergerakan kamera dan framing; menunjukkan bagaimana dua karakter dalam sebuah drama saling berusaha memenangi satu sama lain untuk mendapatkan apa yang mereka mau. Alasan lain adalah karena ini blog saya, jadi terserah saya dong

Adegan dimulai dengan Starling dan Lecter melihat langsung ke arah lensa kamera--ke arah satu sama lain, memperhatikan satu sama lain melalui kaca sel penjara tempat sang dokter ditahan. Meskipun peran Lecter di situ adalah sebagai tahanan, posisi framing pada gambar mengindikasikan bahwa mereka setara.



Kedua karakter melihat tepat ke arah kamera

Namun, begitu Lecter melontarkan dialog pertamanya yang merujuk pada tanda pengenal F.B.I milik Starling,
"That expires in one week. You're not a real F.B.I, are you?"
Kamera langsung berpindah, mengambil gambar melalui angle atau sudut pandang over the shoulder, menandakan kedua karakter tersebut mulai memasang pertahanan mereka masing-masing.

Selanjutnya, Lecter memerintahkan Starling untuk duduk; menandakan kepada penonton bahwa dialah yang mempunyai kuasa dalam porsi adegan ini. Hal ini makin dipertegas dengan angle kamera berikutnya yang mengikuti Starling duduk, membuat penonton sedikit menunduk ke arahnya, menandakan bahwa dia tidak memiliki kuasa pada adegan tersebut; dan sedikit menengadah ke arah Lecter, menandakan dia yang menguasai jalannya adegan.



Bukan hanya itu, saat Lecter masih melihat tepat ke arah mata penonton, Starling digambarkan melihat ke arah off camera. Ini karena kita berada dalam kepala Starling. Jonathan Demme mempertegas hal ini dengan mengarahkan kamera ke sekitar ruangan sel Lecter, arah pandangan Starling, lalu panning kembali ke arah sang kanibal.



Perlu diingat bahwa dalam adegan ini, Starling berusaha merayu Dr. Lecter untuk melihat sebuah survei. Setiap kali Starling terlihat terlalu obvious atau terang-terangan, kamera berganti angle untuk menunjukkan bahwa Lecter memasang pertahanan terhadap Starling.


Meskipun demikian, Lecter sebenarnya penasaran akan satu hal,
"You know why he's called Buffalo Bill?"
Lalu, sudut pandang yang ditunjukkan pun berganti. Starling melihat tepat ke mata kita sedangkan Lecter melihat off camera. Framing yang ditunjukkan berganti untuk menandakan bahwa Lecter benar-benar tertarik, itulah kenapa kita beralih ke sudut pandangnya.



 Hubungan mereka pun mulai terasa lebih hangat setelah pertukaran dialog berikut,

"Most serial killers keep some sort of trophy."

"I didn't."

"No, you ate yours."

Dari sini terlihat seakan-akan Starling sudah menang. Lecter setuju untuk melihat survei yang diajukan Starling, dan kita mendapat close-up untuk memperlihatkan betapa pentingnya survei tersebut.



Namun kemudian Lecter memutuskan untuk memutar balik keadaan,
"You know what you look like to me with your good bag and your cheap shoes? You look like a rube."
Mengikuti dialog ini, dalam pertama kalinya kamera melakukan dollies atau bergerak secara horizontal sepanjang film dan berakhir dengan framing Lecter secara normal, namun membiarkan Starling tidak terfokus dan terlihat off-balance. Tepat saat Starling merasa dia menang, dia dikalahkan begitu saja.



Dalam shot selanjutnya, meskipun framing yang digunakan serupa dengan sebelumnya, Lecter tidak lagi melihat tepat ke tengah kamera namun sedikit lepas. Kedua karakter tersebut tidak lagi melihat secara eye to eye.


Lecter tidak lagi melihat tepat ke arah kamera

Lecter berjalan menjauhi kamera, dan kemudian dicerminkan oleh Starling yang melakukan hal yang sama.



Setelah Starling mendapat gangguan dari Miggs, penghuni sel sebelah, Lecter memanggilnya kembali dan kita mendapat gambar two-shot pertama dalam sepanjang adegan tersebut. Akhirnya kedua karakter tersebut berada dalam satu frame. Kamera diposisikan menengadah ke atas, dan kita sebagai penonton mengerti bahwa ini adalah awal mula hubungan mereka.



Yang membuat adegan ini begitu dinamis adalah bagaimana Lecter berhasil memenangkan adegan tersebut namun merelakan kemenangan tersebut atas alasannya sendiri. Starling mendapatkan yang ia inginkan, namun hal tersebut terasa seperti penghinaan.

End of the Scene.

Kalau kalian menikmati latihan kecil barusan, variasi interaksi-interaksi lain antara Hannibal Lecter dan Clarice Starling sepanjang film didasari dengan pertanyaan yang sama: who wins the scene?

Dengan memanfaatkan komposisi gambar dan framing yang cerdas, The Silence of the Lambs memberi suguhan horor yang subtle, yet effectively unsettling.
0
Share



Dr. Strange, rilis pada tanggal 27 Oktober lalu merupakan salah satu film keluaran Marvel Studio yang paling ambisius secara visual sejauh ini. Dibintangi oleh Benedict Cumberbatch, yang sejauh ini seringnya kita lihat memainkan karakter jenius dan berengsek sama seperti perannya sebagai Dr. Stephen Strange (jangan lupa titel doktornya harus dicantumkan) di film ini, dan disutradarai oleh Scott Derrickson, yang sudah terbiasa directing film-film musim gugur dengan visual gelap. Sehinngga bisa dibilang produksi dari film ini sangatlah aman.

Mungkin anda bertanya-tanya kenapa saya menyamakan Dr. Strange dengan sulap jalanan, well, mudah saja. Sama seperti sulap jalanan, film fantasy-adventure menggunakan efek visualnya yang ciamik sebagai pengalih pehatian dari plot, dan trik-trik sederhana yang ada dibaliknya.

Jangan salah, saya tidak beranggapan bahwa film ini jelek, sebaliknya saya cukup terhibur dan saya menyarankan anda segera menonton instalasi Marvel terbaru ini. Dr. Strange menyuguhkan aksi yang menghibur, epic score and sound design, dialog dengan komedi yang sassy dan pintar, dan tentu saja visual yang ditampilkan luar biasa cantik sehingga sepanjang film membuat saya ingin buka celana. Namun, film ini bukan tanpa cela.


Film ini menceritakan tentang perjalanan Dr. Stephen Strange, pria kaya raya yang terbaik dalam bidang pekerjaannya, jenius namun arogan, yang mengalami pengalaman hampir mati karena kelakuannya sendiri yang secara drastis merubah hidupnya, dan menemukan panggilan dan kehidupan baru sebagai seorang superhero dari tragedi tersebut. Kalau imej Tony Stark muncul setelah anda membaca rangkuman tersebut, anda tidak salah karena memang plotnya, terutama dalam first act-nya, sangat mirip dengan film Iron Man yang pertama. Hell, saya bisa menyebut Dr. Stephen Strange sebagai Tony Stark 2.0.

Namun semua kesamaan itu menghilang setelah masuk 2nd act karena konflik dan motivasi yang mendorong kedua karakter terssebut juga beda jauh. Penggambaran karakter Dr. Strange sendiri lebih tragis dan gelap, didukung dengan tone dalam film yang lebih dramatis. Karena saya tidak mau spoiler cukup sampai situ saja. Ngomong-ngomong soal tone.


Mari kita bicarakan yang paling kentara; the visuals. Saya yakin sudah banyak pujian yang dilontarkan untuk aspek yang satu ini. Pujian datang terutama dari sisi CGI jadi saya tidak akan menambahkan komentar lagi selain bahwa saya ingin menonton film ini lagi dalam keadaan high. Beneran deh, selain cantik dan memukau visual yang disuguhkan oleh Ben Davis selaku cinematographer juga bersifat psychedelic. Bahkan dalam kondisi sadar pun kepala saya sering dibuat pusing selama menonton.

Yang membuat saya lebih tertarik dalam segi visual adalah, tone yang dipakai dalam film ini juga lebih gelap dari film-film MCU (Marvel Cinematic Universe) lainnya, which fits the theme perfectly. Bukan hanya itu, shots yang diambil memiliki komposisi yang memuaskan mata, lighting yang halus, dan tiap adegan diarahan dengan cermat. Ada satu adegan dimana Dr. Strange sedang sendirian dalam apartemen mewahnya dan berbincang dengan mantan kekasihnya Christine Palmer (diperankan oleh Rachel McAdams) dan Scott Derrick dengan pintar menggunakan hujan di background adegan tersebut. Dengan menampilkan dua karakter sekedar ngobrol, Derrick menggunakan hujan sebagai alat untuk menjaga agar mata penonton tidak kering dan saat adegan mencapai klimaks hujan yang hadir pada background membantu adegan itu makin dramatis. Clever.

Dr. Strange
juga menampilkan bermacam-macam dunia, contoh: dunia astral. Dan masing-masing dunia tersebut memiliki karakteristik masing-masing dan menggunakan tone yang berbeda-beda. Penggunaan tone yang begitu dinamis ini memberi kejelasan dan memberi nuansa yang khas sehingga penonton bisa dengan mudah membedakan antara satu dan yang lainnya. Permainan dunia ini juga yang membantu membedakan film ini dengan film lain.

Ada juga pergerakan kamera yang membuat saya tersenyum puas, yang efektif menandakan perubahan hati Dr. Strange untuk menolong orang yang bukan dirinya sendiri. Sayangnya, kalau saya bahas sekarang nanti spoiler he he.

Dalam hal performance, tidak perlu ditanya lagi karena dalam hal ini MCU belum pernah salah casting dan tiap aktor selalu seakan-akan terlahir untuk peran yang diberikan. Seperti biasa juga, karakter-karakter yang ditampilkan sangat likeable dan fleshed out. Yang perlu diperhatikan di sini cuma bagaimana semua karakter bisa tampil humoris. Most of the time momen-momen komedik yang ditampilkan (and trust me there are lots of 'em) berhasil memancing tawa namun sisi komedik ini juga membawa masalah yang akan kita bahas nanti.

Hal lain yang kurang mendapat perhatian adalah film ini bukan hanya film Marvel yang paling ambisius dalam sisi visual namun juga musik. Scoring yang disuguhkan terasa lebih dramatis dan epic dibandingkan film-film Marvel sebelumnya. Bahkan, beberapa action yang ditampilkan akan terasa lebih datar bila tidak ditemani oleh musiknya.

Dengan menggunakan sihir sebagai elemen utama dalam dunia Dr. Strange, sebenarnya akan sulit untuk fitting cerita yang di luar kebiasaan MCU. Namun dengan menampilkan bahwa The Avengers co-exist with this magical world dunia yang ditampilkan tidak terasa distant dari universe yang sudah ada sebelumnya.

Sihir yang ditampilkan juga tidak over the top sehingga meskipun spektakuler, masih bisa dianggap believable. Desain motif-motif sihir yang digunakan juga enak untuk dilihat, rumit, dan mengundang kagum tanpa terkesan konyol.

Seperti yang sudah saya katakan, film ini bukan tanpa cela, bahkan ada beberapa yang menganggu saya selama menonton.

Obviously, ini bukan pertama kalinya saya menyaksikan cerita semacam ini dan Dr. Strange tidak menceritakan plotnya dengan cara baru selain dengan visual yang pastinya lebih dijadikan fokus. Dan seperti yang sudah saya sampaikan sebelumnya, cerita film ini tidak beda jauh dengan film Iron Man pertama, bahkan banyak kesamaan character traits antara dua titular characternya. Jika Dr. Strange bukan properti Marvel tentu bukan masalah yang terlalu besar, namun karena mereka mempunya induk yang sama, ini menunjukkan batasan kreatif tim Marvel. And yes, I know that's how it is too in the comics, but that doesn't make it any better if not worse.

Banyak juga penggambaran dan simbolisme yang hadir di sepanjang film. Namun, ada satu simbolisme yang menurut saya sangat obnoxious yaitu rentetan gambar tangan di sepanjang film. Satu atau dua shot saja sudah cukup untuk menunjukkan pada audience bahwa tangan Dr. Strange merupakan elemen penting dalam film ini, tapi tolonglah tidak perlu disodokkan ke muka kami begitu. Kan jengah juga lama-lama.

Bila selama menonton anda merasa kurang engaged ke dalam cerita yang ditayangkan, tidak perlu heran. Di saat anggota Avengers lainnya sudah bertarung menghadapi segala macam bencana dan berada jauh di dalam konflik semesta Marvel, film ini masih berkutat dengan origin story. Menceritakan dari awal bagaiman Dr. Strange menjadi Dr. Strange. Hal ini sebenarnya cukup imut karena kita bisa melihat lagi bagaimana Marvel menangani backstory karakter-karakter mereka, namun karena film ini ingin diperlakukan sebagai ekstensi MCU (dengan menunjukkan hubungannya dengan semesta Avengers), sulit untuk tidak merasa bahwa cerita yang ditampilkan sudah jauh ketinggalan dari instalasi-isntalasi Marvel lainnya. Inilah kenapa penonton, paling tidak saya sendiri, kurang immersed ke dalam dunia yang diceritakan. Also, it's a friggin origin story, god damn I'm tired of those.

Ngomong-ngomong soal immersion, problem paling besar yang saya punya terhadap film ini adalah kurangnya tensi. Sudah saya katakan sebelumnya, bahwa semua karakter di sini bisa membuat saya tertawa. Semua termasuk villain utamanya, Dormamu, yang merupakan monster pemakan planet-planet dalam alam semesta dan raja alam kegelapan digambarkan secara main-main dan dengan komedik sehingga tidak memancing rasa takut ataupun tensi sehingga tidak terasa ada bahaya selama menonton. Begitu juga secondary villain, Kaecilius (Mads Mikkelsen), yang sering beradu dialog-dialog quippy dengan Cumberbatch.

Memang ini membuat penonton lebih mudah menyukai mereka, namun tanpa adanya karakter yang benar-benar terlihat berbahaya film ini kehilangan semua tensi yang seharusnya bisa ditampilkan dengan cerita seperti ini.

Dr. Strange
menampilkan cerita yang menghibur, visual yang mengagumkan, dan memperkenalkan aspek baru, yaitu sihir ke dalam roster MCU. Meskipun film ini tidak menyuguhkan cerita yang belum pernah ditampilkan sebelumnya dan tidak melakukannya dengan cara yang berbeda, film ini cocok untuk ditonton bila kalian hanya mencari hiburan untuk mengisi waktu luang.

I'll give Dr. Strange a 7.5/10.
0
Share

Apa yang pertama kali terbesit di benak anda ketika mendengar kata superhero? Kostum? Superpower? Simbol? Penumpas kejahatan? Identitas Rahasia? Marvel? DC? Sebenarnya apa yang membuat karakter fiksi yang ditampilkan oleh media pantas untuk dilabeli sebagai superhero  atau pahlawan super?

Sejauh ini banyak sekali definisi dari superhero yang dilontarkan oleh sekian banyak tokoh, mulai dari sutradara film, aktor, atau bahkan author atau penulis komik itu sendiri. Namun, dari sekian banyak definisi yang diberikan, mereka masih belum mencapai titik temu persetujuan untuk definisi superhero yang bisa diterima secara universal. Bila kita telusuri dari akarnya, ungkapan superhero pertama kali dilontarkan dalam buku An Airman Outings (1917) oleh Alan Bott, yang merujuk pada pilot pesawat Inggris pada masa perang dengan menyebut mereka sebagai the super-heroes of war atau pahlawan super perang. Dua dekade kemudian, terbitlah serial komik Action Comics pada bulan Juni 1938 dan memperkenalkan karakter superhero yang paling mudah dikenali saat ini, yaitu Superman.

Munculnya karakter Superman dijadikan standar penulisan karakter superhero, dengan kostum berwarna-warni yang mudah dikenali, identitas rahasia dengan Clark Kent sebagai alter-ego-nya, dan kekuatan super yang mengundang rasa kagum. Superman sendiri juga digambarkan sebagai karakter yang tanpa lelah menumpas kejahatan dan membantu mereka yang membutuhkan. Menariknya, banyak sekali jajaran karakter fiksi yang memenuhi kriteria-kriteria tersebut, namun tidak dianggap sebagai pahlawan super. Jelas sekali bahwa ada satu fitur utama yang menjadi penentu definisi pahlawan super.

Menurut Dr. Robin Rosenberg, seorang psikologis yang menjadi salah satu editor buku What Is A Superhero? (2013), seorang superhero terdiri dari dua komponen yaitu: (1) Super, yaitu mereka lahir dengan kekuatan super, menyadari bahwa mereka mempunyai kekuatan super atau mengembangkan kekuatan super tersebut, dan (2) Hero atau pahlawan, yaitu mereka secara konsisten melakukan kebaikan. Maksud dari poin kedua ini adalah satu saja perbuatan baik dari karakter dengan kekuatan super tidak membuat mereka menjadi seorang superhero, mereka menjadikan perbuatan baik sebagai bagian dari misi hidup mereka.

Stan Lee, mantan presiden Marvel, memberikan definisi yang serupa dengan Rosenberg, dengan menyatakan superhero sebagai “A person who does heroic deeds and has the ability to do them in a way that a normal person couldn’t” atau seseorang yang melakukan tindakan heroik dan melakukan mereka dalam cara yang tidak bisa dilakukan orang lain.

Jeph Loeb, kepala bagian Marvel TV, menyatakan superhero adalah orang-orang dengan kekuatan dan kemampuan melebihi manusia biasa yang membuat keputusan untuk menggunakan kekuatan tersebut untuk membantu mereka yang membutuhkan.

Joe Quesada, mantan editor-in-chief Marvel, mendeskripsikan superhero sebagai an extraordinary person placed in an extraordinary circumstances who manages to do extraordinary things to ultimately triumph over evil atau orang luar biasa yang ditempatkan pada situasi luar biasa yang sanggup melakukan hal-hal luar biasa untuk mengalahkan kejahatan.

Banyak sekali rentetan karakter superhero yang terlahir dengan kekuatan super ataupun mendapatkan kekuatan super dan menggunakannya untuk kebaikan. Superman merupakan alien dari planet Krypton dan menjadi pelindung bumi, Spiderman menerima gigitan laba-laba radiasi dan melawan kriminal di kota New York, karakter-karakter manusia mutan dari serial komik dan film X-Men, dan banyak karakter lainnya yang menggunakan kekuatan supernya untuk membasmi kejahatan dan menegakkan keadilan serta menyelamatkan nyawa banyak orang. Kesamaan lain yang mereka miliki adalah mereka semua tidak melatih atau mengasah kekuatan mereka. Kekuatan mereka ada sejak lahir atau diberikan kepada melalui suatu cara tertentu yang tidak memerlukan mereka untuk bekerja keras mendapatkan super power mereka.

Lalu, k
emunculan karakter Batman pada serial Detective Comics pada tahun 1939, hadir sebagai penantang definisi superhero yang sudah ada. Masih memakai kostum, masih mempunyai identitas rahasia seabagai Bruce Wayne, masih mempunyai simbol, masih menumpas kejahatan dan menyelamatkan nyawa banyak orang, namun Batman tidak mempunyai superpower sama sekali. Karakter Batman digambarkan sebagai sebatas seorang pria berkostum yang mengandalkan kemampuan mental dan fisik di atas rata-rata, menguasai hampir semua bentuk bela diri, kemampuan investigasi yang sangat handal, sehingga digadang sebagai the world’s best detective atau detektif terbaik dunia, dan ketrampilan menggunakan bermacam-macam gadget untuk bertarung dan investigasi.

Semua kemampuan yang dimiliki Batman merupakan asahan dan bukan kemampuan ataupun kekuatan dari lahir. Yang menarik adalah, tanpa adanya superpower pun Batman masih dianggap sebagai pahlawan super. Hal yang serupa juga terjadi pada karakter-karakter seperti Hawkeye, Green Arrow, Daredevil, Iron Man, dan Iron Fist yang mengasah kekuatan mereka.

Sebaliknya, karakter seperti Buffy dari serial tv Buffy the Vampire Slayer (1997-2003), yang sejak lahir diberkati dengan kekuatan mistis yang berasal dari intisari iblis. Kekuatan mistis yang dia miliki memberi dia keunggulan fisik dari sisi kekuatan, kelincahan, kecepatan, dan panca indra. Tentunya semua hal ini merupakan keunggulan yang tidak dimiliki manusia biasa sehingga bisa tergolong sebagai kekuatan super dan dia menggunakan kekuatan itu untuk membasmi kejahatan dan menolong mereka yang membutuhkan. Namun, sejauh ini tidak ada yang memandang Buffy sebagai seorang pahlawan super. Karakter-karakter seperti Gandalf, Luke Skywalker, dan Harry Potter juga mengalami perlakuan yang sama dengan Buffy.


Kriteria lain yang menjadikan sebuah karakter sebagai pahlawan super adalah identitas rahasia, kostum yang melindungi identitas tersebut, dan simbol yang menemani kostum tersebut. Hampir semua karakter yang dikenal sebagai superhero mengenakan kostum dengan simbol yang menjadi trademark mereka. Simbol-simbol yang mereka kenakan ini seringkali memiliki makna tersendiri. Superman mengenakan kostum biru-merah dengan huruf ‘S’ besar yang dalam bahasa kryptonian berarti harapan, menjadikan Superman sebagai penyelamat yang diandalkan dan diharapkan oleh umat manusia. Contoh lain, adalah Batman yang menjadikan kelelawar, hewan yang paling dia takuti, sebagai simbol di atas kostumnya sebagai tanda bahwa dia adalah karakter yang ditakuti. Hal ini didukung juga oleh kostumnya yang konsisten menggunakan perpaduan warna hitam, abu-abu, dan biru gelap.

Namun, banyak juga karakter yang tidak menyembunyikan identitasnya, tidak mengenakan kostum, dan tidak mempunyai simbol yang merepresentasikan siapa mereka tetapi tetap diterima sebagai figur superhero, seperti: Jessica Jones—yang digambarkan mengenakan pakaian casual, Black Widow—juga digambarkan mengenakan pakaian biasa dan seragam agen, Hulk—yang hanya mengenakan celana pendek, dan Luke Cage—yang hanya mengenakan kaos dan jaket hoodie. Ada juga karakter-karakter seperti Tony Stark, Steve Rogers dan Thor yang meskipun mengenakan kostum, mereka tidak menyembunyikan identitas mereka sama sekali.

Sedangkan, Harry Potter yang mempunyai simbol tanda petir di dahinya—yang  melambangkan penderitaan (seperti yang kita lihat di sepanjang serial film dan novel  Harry Potter dimana sang protagonis selalu mengalami kesulitan dan penderitaan kemanapun dia pergi), mengenakan kostum dalam bentuk seragam Hogwarts, mempunyai kemampuan melebihi manusia dan penyihir lain, dan menggunakan kemampuan-kemampuan tersebut untuk membantu banyak orang dan mengalahkan kejahatan, tidak pernah dianggap sebagai pahlawan super.


Bagaimana dengan setting atau latar? Apakah dunia dimana suatu karakter bertempat memengaruhi pertimbangan kita akan pantas atau tidaknya mereka sebagai seorang superhero? Lihatlah Naruto yang tentunya memenuhi hampir semua kriteria sebagai pahlawan super; kekuatan super, melawan kejahatan, tidak ada yang bisa menyamai kemampuannya, mengenakan kostum yang mudah dikenali dan memiliki simbol. Yang berbeda dari serial Naruto hanyalah setting yang diambil begitu berbeda dengan dunia kita, mengambil tempat di dunia ninja. Begitu juga dengan kebanyakan karakter anime lainnya. Bila kita lihat, Naruto mempunyai kesamaan dengan karakter-karakter seperti Harry Potter, Luke Skywalker, dan Gandalf: dunia yang berbeda secara drastis dengan dunia kita.

Poin yang membedakan antara karakter-karakter seperti Harry Potter, Luke Skywalker, Naruto, ataupun Gandalf dengan karakter-karakter seperti Superman, Batman, Aquaman, Thor, Spiderman, Luke Cage, dan Jessica Jones adalah relatability mereka atau kapasitas penonton/pembaca untuk mengidentifikasikan diri mereka ke dalam dunia karakter-karakter tersebut. Hal ini dikarenakan setting  atau latar karakter seperti Superman berada di dunia nyata, yang kita sadari secara betul terhubung dengan dunia kita dan mitologi yang ada di dalamnya, dan di dalam universe atau alam semesta yang bisa kita kenali.

Meskipun ada beberapa pahlawan super yang bertempat di kota fiksi seperti Metropolis dan Gotham, contohnya, dua kota tersebut masih mempertahankan fasad kota yang serupa dengan kota-kota yang sering kita lihat di dunia nyata. Ada juga karakter-karakter sperti Thor yang bertempat di Asgard dan Aquaman di Atlantis, yang bertempat di setting yang tidak familiar, namun kedua tempat itu masih bisa ditelusuri kembali kepada mitologi yang ada di bumi. Kepercayaan bahwa kedua tempat itu benar-benar nyata juga telah tertanam dalam diri penonton/pembaca sebelumnya. Alhasil, mereka telah merasa familiar dengan kedua setting tersebut. Contohnya, Atlantis merupakan tempat yang telah dipercaya ada namun masih tidak kita ketahui keberadaannya dan Asgard dipercaya sebagai tempat berdiamnya dewa-dewi dari negara-negara Nordik.

Sebaliknya, karakter selayaknya Harry Potter ataupun Luke Skywalker mengambil tempat asing yang benar-benar baru bagi kita, dengan serial Star Wars yang mengambil latar “Long ago, in a galaxy far, far away.” Bisa dilihat juga dari dunia karakter-karakter anime, contohnya serial Naruto yang bertempat dalam dimensi 2D, sehingga langsung membuat penonton merasa bahwa dunia yang diperlihatkan tidaklah nyata. Contoh lain dengan serial film Harry Potter, yang bertempat di dunia sihir yang meskipun memiliki paralel dengan dunia nyata, penggambaran dalam novel-novel ataupun film-filmnya membuat penonton merasa dunia yang ditampilkan jauh berbeda. Sihir-sihir yang kelewat luar biasa dan makhluk-makhluk yang tidak pernah kita lihat sebelumnya, dibandingkan dengan dunia nyata, membuat semesta yang ditampilkan semesta Harry Potter kehilangan relatability-nya.

Dari sekian banyak faktor yang seharusnya menjadi penentu definisi superhero yang ada, ternyata faktor yang membuat kita menganggap suatu karakter sebagai pahlawan super adalah kedekatan dunia mereka dengan dunia kita sendiri. Terdapat banyak sekali karakter yang seharusnya sudah memenuhi kriteria-kriteria yang ada—dengan  kostum, kekuatan super, dan kerelaan mereka membantu orang banyak—untuk  dianggap sebagai superhero, namun latar dunia mereka yang jauh berbeda dengan dunia kita atau mengambil latar tempat yang sepenuhnya baru dari pengetahuan awal kita, mereka kehilangan semua relatability mereka untuk menjadi dekat dengan penonton ataupun pembaca.



Sumber Referensi

Bott, Alan. 1917. An Airman’s Outings. Last Post Press: London.

Rosenberg S., Robin & Peter Coogan (Eds). 2103. What Is a Supehero? Oxford University Press: USA.

Lee, Stan. 2013. “More Than Normal, But Believable” dalam Rosenberg S., Robin & Peter Coogan (Eds). 2103. What Is a Supehero? Oxford University Press: USA.

Loeb, Jeph. 2013. “Making The World A Better Place” dalam Rosenberg S., Robin & Peter Coogan (Eds). 2103. What Is a Supehero? Oxford University Press: USA.

Quesada, Joe. 2013. “Extraordinary” dalam Rosenberg S., Robin & Peter Coogan (Eds). 2103. What Is a Supehero? Oxford University Press: USA.

Siegel, Jerry, dkk. 1938. Action Comics Volume: 1. DC Comics: USA.

Sullivan, Vincent (Ed). 1939. Detective Comics Volume: 1. DC Comics: USA.
0
Share

Blog Archive

  • ▼  2017 (1)
    • ▼  June (1)
      • Active Viewing and Passive Viewing
  • ►  2016 (3)
    • ►  November (1)
    • ►  October (2)

Popular Posts

  • Superhero: Definisi Pahlawan Super Dalam Film, Komik, Dan Media Pop-Culture Lainnya
    Apa yang pertama kali terbesit di benak anda ketika mendengar kata superhero ? Kostum? Superpower ? Simbol? Penumpas kejahatan? Identita...
  • The Silence of the Lambs: Mendikte Adegan Melalui Framing Gambar
    Spoiler Alert: tulisan ini ditujukan untuk mereka yang sudah menonton film yang akan dibahas. Disarankan untuk menonton film secara men...
  • [REVIEW] Dr. Strange: Sulap Jalanan Versi Marvel
    Dr. Strange , rilis pada tanggal 27 Oktober lalu merupakan salah satu film keluaran Marvel Studio yang paling ambisius secara visual s...
  • Active Viewing and Passive Viewing
    Passengers adalah film original screenplay keluaran tahun 2016 yang disutradarai oleh Morten Tyldum yang juga menyutradarai The Imitati...

About The Blog

Nitpick Your Movies merupakan wadah untuk penikmat film yang pilih-pilih dan tidak sembarangan menikmati film ataupun bentuk entertainment lainnya. Hati-hati, bisa jadi film favorit anda akan kena semprot di sini.

About The Author

Ed Nuance (nama samaran) yang saat ini duduk di bangku kuliah adalah orang yang cukup pilih-pilih dalam segala hal, khususnya masalah film. Karena tidak tahu harus cerewet ke siapa, akhirnya Ed Nuance pun menulis blog untuk menampung curahan otaknya yang banyak tuntutan.
Powered by Blogger.
Copyright © 2016 Nitpick Your Movies

Designed by PLASTICDEATH